PELATIHAN PENGEMBANGAN SOFTSKILL: PHOTOGRAPHY AS AN ETHNOGRAPHIC RESEARCH TOOL

Pada tanggal 7 Oktober 2022, prodi Antropologi Sosial mengadakan pelatihan pengembangan softskilll “Photography as an Ethnographic Research Tool” yang diikuti oleh mahasiswa jenjang semester 3 dan 5 secara hibrid, bersamaan dengan pameran fotografi Jrakah’s Culture and Heritage yang diadakan oleh kawan ARE. Narasumber utama yang memaparkan materi pelatihan kali ini adalah Ben K. C. Laksana (Cand. PhD.) dan Rara Sekar Larasati, M.A. dari Arkademy Project. Acara diawali oleh sambutan dari ketua program studi Antropologi sosial, Dr. Suyanto, M.Si., dan dilanjutkan dengan sambutan dari dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Nurhayati, M.Hum.

Latar belakang diadakan pelatihan pengembangan softskill ini adalah seperti yang diketahui bahwa etnografi telah dikenal sebagai salah satu metode penelitian yang dapat mendukung penelitian di bidang ilmu sosial, terlebih dalam antropologi. Dengan pendekatan yang mendalam lewat participatory observation, in-depth interview dan lived in bersama tineliti, etnografi menjadi sebuah cara pengumpulan data yang berpihak pada individu beserta aspek kebudayaan yang mereka miliki. Seiring waktu, temuan teknologi terus berkembang yang juga pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah kehadiran kamera. Kehadiran kamera lantas menjadi sarana penunjang para ilmuwan sosial dan etnografer untuk mengukuhkan temuannya, tidak hanya dalam bentuk narasi, tapi juga beserta bukti potongan gambar kecil yang mewakili realita besar di lokasi penelitian.

Oleh karena itu, fakta di atas menjadi alasan utama mengapa pelatihan pengembangan softskill fotografi memiliki urgensi yang tinggi untuk diselenggarakan dan dipaparkan bagi mahasiswa antropologi. Mahasiswa dapat melakukan eksplorasi pengambilan data alternatif serta mendapatkan pandangan lain dari praktisi etnofotografi. Besar harapan kekayaan wawasan yang ditawarkan dari pelatihan pengembangan softskill ini mampu memberikan bekal bagi mahasiswa, utamanya mereka yang akan menempuh tugas akhir. Dengan demikian, kualitas dari para lulusan S1 Antropologi FIB Universitas Diponegoro diharapkan dapat meningkat seiring dengan peran fakultas serta prodi yang memfasilitasi program peningkatan keahlian bagi mahasiswa.

Ben K. C. Laksana sebagai narasumber yang membuka acara pelatihan lebih menekankan pada faktor teknik pemilihan gambar dan etika pada saat mengambil foto di lapangan. Hal ini menjadi penting karena seringkali saat berada di lapangan, fokus peneliti terbagi ke banyak hal, utamanya menggali data lewat interview dan observasi. Dengan mempersiapkan sedari awal, maka akan berpengaruh pada efisiensi waktu di lapangan. Selain itu, perihal etika juga sangat penting untuk turut diaplikasikan dengan memperhatikan faktor consent/kesediaan pihak yang menjadi informan. Aspek consent seringkali luput dari perhatian peneliti, padahal sangat erat kaitannya dengan perlindungan pada identitas individu yang kita teliti.

Kemudian sesi dilanjutkan oleh Rara Sekar Larasati, ia membuka sesi pemaparan dengan menjelaskan dua pendekatan dalam penelitian antropologi menggunakan medium kamera, yaitu visual ethnography dan photo elicitation. Dengan menggunakan studi kasus dari penelitiannya terdahulu pada kelompok keyakinan Jawa Sanyata di Jawa Timur, ia turut menampilkan beberapa contoh hasil praktik photo elicitation dengan fokus tema penelitian tentang makna sukses bagi pemuda pemeluk keyakinan Jawa Sanyata. Sesi pemaparan dari kedua narasumber kemudian ditutup oleh penjelasan tentang Arkademy Project dan sesi tanya jawab yang berlangsung secara menarik karena antusiasme yang tinggi dari para mahasiswa yang tertarik untuk memanfaatkan medium foto dalam penelitian etnografi yang sedang dan akan dilakukan.